FUNGSI PERTAHANAN DAN KEAMANAN

DARI EKOSISTEM MANGROVE[1]

Oleh

Cecep Kusmana

Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

e-mail: cecep_kusmana@ipb.ac.id

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri atas sekitar 17.504 buah pulau (28 pulau besar dan 17.475 pulau kecil) dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km (www.ppk-kp3k.dkp.go.id, 2009) dengan kondisi fisik lingkungan dan iklim yang beragam.  Total luas wilayah Indonesia tersebut adalah sekitar 9 juta km2 yang terdiri atas 2 juta km2 daratan dan 7 juta km2 lautan (Polunin, 1983).  Oleh karena itu Indonesia mempunyai ekosistem pesisir yang luas dan beragam yang terbentang pada jarak lebih dari 5.000 km dari timur ke barat kepulauan dan pada jarak 2.500 km dari arah utara ke selatan kepulauan.

Berdasarkan informasi terakhir dari Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, negara Indonesia saat ini mempunyai 92 buah pulau kecil terluar yang memiliki perbatasan wilayah laut dengan 10 negara (Malaysia, Singapura, Australia, Timor Leste, Filipina, Thailand, Vietnam, India, Papua Nugini, dan Palao). Pada hakekatnya pulau-pulau kecil terluar tersebut merupakan titik pangkal terluar untuk batas Laut Teritorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif, dan Landas Kontinen wilayah Indonesia dengan batas wilayah laut negara lain. Suatu ancaman, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar pulau tersebut, yang berpotensi mengdegradasi bahkan menghilangkan/menenggelamkan keberadaan pulau-pulau kecil tersebut akan berakibat mengurangi luas wilayah perairan laut Indonesia yang pada hakekatnya akan mengganggu terhadap keutuhan kedaulat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagian besar daerah pantai pulau-pulau kecil tersebut di atas merupakan tempat tumbuh mangrove yang baik, sehingga mangrove merupakan suatu ekosistem yang umum mencirikan morfologi sistem biologi pesisir di Indonesia, disamping padang lamun dan terumbu karang, yang memainkan peranan penting dalam perlindungan dan pengembangan wilayah pesisir.

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi, dan pembersih air dari polutan. Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove. Dengan perkataan lain, mangrove menyediakan berbagai jenis produk dan jasa yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional, maupun nasional serta sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat sekitar hutan. Kesemua fungsi mangrove tersebut akan tetap berlanjut kalau keberadaan ekosistem mangrove dapat dipertahankan dan pemanfaatan sumberdayanya berdasarkan pada prinsip-prinsip kelestarian. Hal ini berarti mangrove berperan sebagai sumberdaya renewable dan penyangga sistem kehidupan jika semua proses ekologi yang terjadi di dalam ekosistem mangrove dapat berlangsung tanpa gangguan.

Saat ini di Indonesia mangrove tumbuh di daerah pantai sekitar 257 kabupaten/kota. Pada tahun 1999, luas hutan mangrove Indonesia diperkirakan sekitar 9,6 juta ha yang terdiri atas 3,8 juta ha di dalam kawasan hutan dan 5,8 juta ha di luar kawasan hutan.  Saat ini sekitar 42 % (1,6 juta ha) mangrove di dalam kawasan hutan dan 77 % (3,7 juta ha) mangrove di luar kawasan hutan sedang mengalami kerusakan akibat overeksploitasi, konversi ke bentuk pemanfaatan lain, pencemaran, bencana alam, dan lain-lain. Kerusakan ekosistem mangrove di banyak pulau, terutama pulau-pulau kecil terluar, di Indonesia akan menyebabkan hilangnya/tenggelamnya pulau-pulau tersebut yang berimplikasi terhadap pengurangan luasan daratan dan keutuhan kedaulatan negara (pengurangan wilayah laut nusantara).

PENGERTIAN MANGROVE DAN

RUANG LINGKUP SUMBERDAYA MANGROVE

Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (Macnae, 1968).  Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.  Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, dan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut.

Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Adapun menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit[2] yang hidup di sepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.

Dengan demikian secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam.  Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungan dan dengan sesamanya di dalam suatu habitat mangrove.

Ruang lingkup sumberdaya mangrove secara keseluruhan terdiri atas: (1) satu atau lebih spesies tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat mangrove, (2) spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat  mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove, (3) biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove, (4) proses-proses alamiah yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya, dan (5) daratan terbuka/hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut.

Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, dan hutan payau (bahasa Indonesia).

URGENSI MANGROVE DALAM KONTEK

PERTAHANAN DAN KEAMANAN

Makna Pertahanan dan Keamanan yang dimaksud oleh penulis adalah aspek Pertahanan dan Keamanan yang meliputi aspek sosial ekonomi (dalam hal ini pemenuhan sandang, pangan, papan, dan kesehatan kehidupan masyarakat) dan aspek perlindungan lingkungan eksistensi sistem penyangga kehidupan serta keberlangsungan penyediaan sarana bela negara.

Ada beberapa alasan yang melandasi pentingnya peranan ekosistem mangrove dalam pertahanan dan keamanan negara, yaitu:

(1)      Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam menciptakan stabilitas suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun secara ekologis.

(2)      Mangrove merupakan sumberdaya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources atau flow resources) yang mempunyai manfaat ganda (manfaat ekonomis dan ekologis). Berdasarkan sejarah, sudah sejak dulu hutan mangrove merupakan penyedia berbagai keperluan hidup bagi berbagai masyarakat lokal. Selain itu, sesuai dengan perkembangan iptek, hutan mangrove menyediakan berbagai jenis sumberdaya sebagai bahan baku industri dan berbagai komoditas perdagangan yang bernilai ekonomis tinggi yang dapat menambah devisa negara. Selain itu, mangrove juga berperan sebagai penyedia jasa lindungan lingkungan (environmental services) bagi sistem penyangga kehidupan masyarakat dan berbagai jenis flora dan fauna.

Dengan demikian peranan ekosistem mangrove dalam kontek Pertahanan dan Keamanan negara dapat ditelusuri dan dipahami dari fungsi ekosistem mangrove itu sendiri.

FUNGSI MANGROVE

Mangrove menghasilkan berbagai macam barang/material (baik berupa kayu maupun hasil hutan bukan kayu) dan jasa lingkungan (oksigen penyerap polutan, pengendali abrasi dan interusi air laut, dan lain-lain) yang sangat bermanfaat secara ekonomis dan ekologis bagi kelangsungan kehidupan masyarakat pesisir dan kelestarian hasil beserta kelestarian fungsi ekosistem pesisir itu sendiri.

Secara garis besar, fungsi mangrove dapat dirinci pada level ekosistem dan level sumberdaya seperti di bawah ini:

  1. Fungsi mangrove pada level ekosistem
  1. Lindungan lingkungan ekosistem pantai secara global, yakni:

(1)      Proteksi garis pantai dari hempasan gelombang

Semua tipe hutan mangrove, dengan pengecualian hutan-hutan yang mengalami perubahan, menunjukkan kemampuan untuk meredam energi dan kekuatan tsunami, mengurangi kecepatan dan dalamnya aliran, dan membatasi wilayah penggenangan. Hutan-hutan mangrove yang alami, sehat dan utuh memberikan perlindungan yang baik bagi wilayah pesisir.

Kerapatan pohon dan sistem perakaran mangrove yang berkembang di atas permukaan tanah (stilt root, knee root, plunk root, pneumatophore), khususnya yang membentuk cable root system dapat memproteksi garis pantai (sehingga tidak terjadi abrasi) dari terjangan gelombang arus laut karena adanya penyerapan energi gelombang dan pengurangan kecepatan arus oleh perakaran mangrove tersebut (Mazda et.al., 1997 a; Saenger, 1982).

Meskipun demikian, pada beberapa kasus, tidak semua hutan mangrove berhasil dalam meredam efek tsunami. Bukti-bukti menunjukkan bahwa fungsi hutan mangrove gagal bila ombak terlalu besar, diameter pohon terlalu kecil, atau pohon tidak cukup punya cabang di dekat permukaan tanah.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, hutan mangrove terbukti dapat meredam kekuatan energi gelombang pasang/tsunami. Utomo (2003) yang dikutip oleh Diposaptono dan Budiman (2008) mengemukakan bahwa hutan mangrove dengan kerapatan 5 %, tinggi 5 m dan tebal 50 m dapat meredam 52 % tinggi tsunami, 38 % energi tsunami, juga 14 %, 19 %, dan 22 % jarak run-up tsunami di atas muka air tenang berturut-turut untuk kemiringan pantai 50, 100, dan 150 . Hasil penelitian yang serupa ditegaskan pula oleh Harada dan Kawata (2004) yang melaporkan bahwa hutan pesisir yang terdiri atas mangrove, sagu, kasuarina, dan tegakan pohon kelapa dengan kerapatan 3.000 pohon per ha dengan diameter batang rata-rata 15 cm dan lebar hutannya sekitar 200 m dapat mengurangi tinggi gelombang tsunami sekitar 50-60 % dan kecepatan aliran tsunami sekitar 40-60 %. Mazda et al. (1997) sudah terlebih dahulu melaporkan efektivitas hutan mangrove dalam meredam kekuatan tsunami. Berdasarkan penelitian mereka tegakan hutan mangrove Kandelia candel berumur 6 tahun yang tumbuh dalam suatu jalur selebar 1,5 km dapat mengurangi tinggi gelombang setinggi 1 m di laut lepas menjadi hanya setinggi 0,05 m di pantai.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas terbukti bahwa vegetasi hutan, khususnya mangrove, dapat memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami.

(2)      Proteksi dari tiupan angin kencang

Fractional drag di atas kanopi mangrove adalah jauh lebih tinggi dibandingkan di atas permukaan air, sehingga semakin ke arah mangrove pedalaman kecepatan angin semakin berkurang. Saenger (2002) melaporkan bahwa mangrove yang tersusun oleh tegakan pohon dengan tinggi 3 – 5 m hanya sedikit mengalami kerusakan (1% dari jumlah pohon) akibat tiupan angin topan.

(3)      Mengatur sedimentasi

Sistem perakaran mangrove dapat mengurangi kecepatan arus air yang mengalir di lantai hutan, sehingga memberi kesempatan kepada partikel-partikel koloid tanah untuk mengendap di lantai hutan.  Wolanski et.al. (1997) mengemukakan bahwa mangrove berperan mengatur pergerakan sedimen melalui pengurangan daya erosif arus air, pengayaan deposit liat dan pengurangan daya resuspensi dari deposit liat sehingga mangrove dapat meningkatkan kualitas perairan dan produktivitas primer oleh melimpahnya fitoplankton.

(4)      Retensi nutrien

Ekisistem mangrove dapat berperan penting sebagai tempat penampung dissolve-nutrient, serta pengolah limbah organik (Boto dan Wellingston, 1983). Dalam hal ini banyak dibuktikan bahwa kesuburan tanah, kandungan hara serasah dan pertumbuhan tegakan mangrove jauh lebih baik di hutan-hutan mangrove yang banyak menerima input hara an-organik, terutama Nitrogen dan Posfor, daripada mangrove yang tidak mendapat input energi dari luar (Clough et al., 1983).

Dengan rapatnya batang-batang dan susunan perakaran mangrove, maka banyak partikel liat terdeposisi di zona mangrove, bersamaan dengan ini banyak nutrien yang berasal dari kolom badan air terserap dalam sedimen liat tersebut.  Hal ini selain mencegah hilangnya nutrien dari mangrove ke laut lepas juga memperbesar cadangan nutrien dalam sedimen mangrove tersebut.

(5)      Memperbaiki kualitas air

Secara umum, Snedaker (1978) mengemukakan bahwa mangrove menyediakan sumber detritus yang penting bagi ekosistem pantai dan estuaria yang mendukung berbagai organisme akuatik.

Perakaran mangrove berperan mengurangi materi tersuspensi dalam badan kolom air, bahkan mendeposisikannya, sehingga konsentrasi oksigen terlarut meningkat.  Selain itu, mangrove dapat menyerap dan mengurangi bahan pencemar (polutan) dari badan air baik melalui penyerapan polutan tersebut oleh jaringan anatomi tumbuhan mangrove maupun menyerap bahan polutan yang bersangkutan dalam sedimen lumpur (IUCN & E/P Forum, 1993 dalam Kusmana, 2009).

Kemampuan vegetasi mangrove dalam menyerap bahan polutan (dalam hal ini logam berat) telah dibuktikan oleh Darmiyati et. al. (1995) dalam Kusmana (2009), dimana jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap lebih dari 300 ppm Mn, 20 ppm Zn dan 15 ppm Cu. Begitu pula Saepulloh (1995) membuktikan bahwa pada daun Avicennia marina ditemukan akumulasi Pb sebesar ≥ 15 ppm, Cd ≥ 0,5 ppm dan Ni ≥ 2,4 ppm.

(6)      Mengendalikan intrusi air laut

Fungsi ini terjadi melalui mekanisme sebagai berikut:

a)   Pencegahan pengendapan CaCO3 oleh bahan hasil eksudat akar.

b)   Pengurangan kadar garam oleh bahan organik hasil dekomposisi serasah.

c)   Peranan fisik susunan akar mangrove yang dapat mengurangi daya jangkauan air pasang ke daratan.

d)  Perbaikan sifat fisik dan kimia tanah melalui dekomposisi serasah.

Hilmi (1998) dalam Kusmana (2009) melaporkan bahwa jarak intrusi air laut di Pantai Jakarta meningkat drastis dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 m menjadi 4,24 km pada lokasi tanpa hutan mangrove.  Secara teoritis diperkirakan percepatan intrusi air laut meningkat 2 – 3 kali pada lokasi tanpa hutan mangrove.

(7)      Pengaturan air bawah tanah (groundwater)

Berhubung mangrove letaknya berada di peralihan antara lautan dengan daratan dan di mangrove banyak terdeposisi partikel liat, maka di batas pedalaman mangrove dengan daratan aliran air tawar dari daratan sering terakumulasi.  Air yang bersifat tawar ini sering dimanfaatkan penduduk pesisir untuk keperluan air minum, mencuci dan mandi.  Selain itu, groundwater ini secara ekologis dapat menstabilkan salinitas pada saat musim kemarau dan mensuplai nutrien ke ekosistem mangrove melalui kanal-kanal yang ada di mangrove.

(8)      Stabilitas iklim mikro

Komunitas mangrove tersusun oleh tegakan yang rapat dan ekstensif dapat menyebabkan pengendalian suhu yang relatif rendah di siang hari dan relatif lebih hangat di malam hari.  Selain itu kelembaban udara di bawah kanopi mangrove yang rapat relatif lebih tinggi dibandingkan di daerah terbuka. Evapotranspirasi dan reflektan panjang-gelombang panjang dari ekstensif kanopi mangrove yang rapat berkontribusi terhadap kelembaban dan densitas awan dalam skala regional, yang akhirnya berkontribusi terhadap curah hujan regional.

b.   Pembangun lahan dan pengendapan lumpur.

Davis (1940) berpendapat bahwa perakaran mangrove berfungsi sebagai penahan lumpur.  Kekontinyuan penimbunan bahan organik menguntungkan bagi pertumbuhan semai dan kelangsungan hidupnya tumbuhan mangrove.  Semai tumbuh dan menyebar ke arah laut seirama dengan proses penimbunan lumpur.

c.   Habitat  fauna, terutama  fauna  laut Menurut Chapman (1977), ekosistem mangrove menyediakan 5 (lima) tipe habitat bagi fauna, yakni:

(1)      Tajuk pohon yang dihuni oleh  berbagai jenis burung, mamalia dan serangga.

(2)      Lobang yang terdapat di cabang dan genangan air di “cagak” antara batang dan cabang pohon yang merupakan habitat yang cukup baik untuk serangga (terutama nyamuk).

(3)      Permukaan tanah sebagai habitat mudskip-per dan keong/kerang.

(4)      Lobang permanen dan semi permanen di dalam tanah sebagai habitat kepiting dan katak.

(5)      Saluran-saluran air sebagai habitat buaya dan ikan/udang.

Peranan penting dari ekosistem mangrove dalam menunjang kehidupan biota laut sudah diyakini secara luas. Tetapi, sebenarnya habi­tat utama dari ekosistem mangrove yang penting dan langsung menunjang kehidupan biota laut adalah saluran-saluran air (shallow bay, inlet dan channel) yang merupakan bagian integral dari ekosistem mangrove tersebut.  Dalam hal ini nampaknya vegetasi mangrove lebih berperan sebagai penyedia nutrisi melalui serasahnya bagi produktivitas primer saluran-saluran air tersebut.

Hamilton dan Snedaker (1984), melaporkan bahwa kelimpahan individu dan keragaman jenis biota laut tertinggi berada pada estuaria dengan kedalaman 0,3 sampai 1,5 m.  Kondisi estuaria dengan kedalaman tersebut cenderung akan semakin banyak dijumpai di lokasi-lokasi ekosistem mangrove yang berjarak semakin jauh dari pantai.

Pada dasarnya sumbangsih mangrove terhadap kehidupan biota laut adalah melalui guguran serasah vegetasi (termasuk kotoran/sisa tubuh fauna yang mati) ke lantai hutan.  Serasah ini akan terdekomposisi oleh cendawan dan bakteri menjadi detritus, yang mana detritus tersebut merupakan makanan utama bagi konsumer primer.  Selanjutnya konsumen primer ini akan menunjang kehidupan biota tingkat konsumer sekunder dan top-konsumer di suatu habitat mangrove.

Produktivitas primer habitat mangrove akan diperkaya oleh komunitas alga di lumpur dan akar (aerial root), komunitas lamun (seagrass), komunitas fitoplankton dari laut dan limbah organik terurai (dissolve–organic compound) dari laut dan daratan.  Kesemua fenomena ini akan mempertinggi produktivitas primer habitat mangrove.

Tingginya produktivitas primer hutan mang­rove salah satunya dapat dilihat dari produkti­vitas serasah hutan tersebut yang umumnya beberapa kali lipat produktivitas serasah tipe hutan daratan, yakni sekitar 5,7 sampai 25,7 ton/ha/th (Kusmana, 1993b). Kondisi habitat mangrove seperti ini mengakibatkan ekosistem mangrove berperan sebagai feeding, spawning dan nursery ground bagi berbagai jenis biota laut (khususnya ikan dan udang) untuk menghabiskan sebagian bahkan seluruh siklus hidupnya.

Misalnya. udang air tawar biasa bertelur di anak-anak sungai di kawasan hutan mangrove dan larva-larvanya akan tinggal di kawasan ini sampai sekitar 1 bulan. Begitu pula jenis kepiting dan nener ikan bandeng akan datang ke kawasan hutan mangrove untuk tumbuh dan berkembang menjadi cukup dewasa.

d.    Lahan pertanian, dan kolam garam

Daerah rawa-rawa mangrove yang mendapat pengaruh pasang surut sudah mulai digarap potensinya untuk lahan padi.  Di Asia Tenggara terutama di Indonesia, Filipina dan Malaysia, kawa­san hutan mangrove juga dikonversi sebagai penghasil garam pada daerah-daerah yang curah hujannya kurang dari 1.000 mm/tahun.  Salah satu persoalan yang pada umumnya dihadapi dalam usaha pemanfaatan tanah-tanah mangrove bagi pertanian ialah kandungan yang tinggi akan garam-garam terlarutkan.  Berdasarkan persyaratan habitat kebanyakan tanaman pertanian, tanah-tanah yang mempunyai DHL diatas 2 mS dinyatakan sebagai tanah garaman. Untuk padi sawah boleh diadakan perkecualian, mengingat tanaman padi  bersifat lebih tahan terhadap kegaraman tanah, yaitu DHL diatas 4 mS. Kadar garam yang  terlalu tinggi dalam tanah akan sangat mengganggu penyerapan hara dan lengas tanah oleh akar tanaman, karena menimbulkan ketegangan lengas tanah yang berlebihan. Dalam tanah mangrove dapat terakumulasi C02 dan hasil-hasil perombakan bahan organik secara anaerob berupa berbagai macam asam organik dalam jumlah yang meracuni tanaman, misal asam asetat dan asam butirat yang khususnya dijumpai dalam tanah mangrove Rhizophora yang kaya akan bahan organik setelah direklamasi. Begitu pula kerusakan dapat ditimbulkan oleh H2S yang menjadi semakin berat  sejalan dengan kenaikan kadar lempung dalam tanah. Selain itu pula sifat fisik tanah mangrove yang kurang baik; tanah masih bersifat “mentah” yang masih berkonsistensi lumpur yang  sangat  lembek. Hal ini memperburuk peredaran udara dan lengas dalam tanah (Notohadiprawiro, 1979).

Di Indonesia, India dan Afrika Barat, padi dapat pula ditanam di daerah pasang surut.  Daerah rawa-rawa mangrove yang mendapat pengaruh pasang surut melalui anak-anak sungai yang mengalir ke kawasan hutan mangrove sudah mulai digarap potensinya untuk lahan padi.

Menurut Sukardjo dan Akhmad (1982), pemanfaatan lahan mangrove untuk keperluan lahan pertanian telah lama dikenal di Indonesia. Semua lahan persawahan di areal mangrove memerlukan sistem bercocok tanam yang lebih banyak perhatian (misal soal waktu tanam, jenis tanaman dan sistem pengairan/drainase). Karena nilai salinitas tanah mangrove cukup tinggi, maka tidak semua areal mangrove suitable untuk pertanian. Selanjutnya dijelaskan bahwa mintakat Ceriops apabila dipaksakan akan digunakan untuk lahan pertanian berupa ekotipe padi dan mintakat hutan mangrove yang lebih suitable untuk lahan pertanian adalah mintakat pedalaman dimana pengaruh pasang surut (penggenangan pasang harian) dan penyusupan air laut minimum. Apabila berdasarkan klasifikasi klas genangan menurut Watson (1928), mintakat mangrove yang lebih suitable untuk pertanian adalah mintakat klas genangan 5 (exceptional or equinoctial tides) dimana Bruguiera gymnorrhiza berkembang dengan baik yang sering berasosiasi dengan pakis dan kadang-kadang Rhizophora apiculata serta ke arah darat sering ditumbuhi oleh tegakan Oncosperma tigillaria. Secara garis besar dapatlah dikatakan bahwa daerah payau yang lebih suitable untuk lahan pertanian adalah daerah di belakang (mulai dari laut ke arah darat) yakni mintakat Nypa fruticans.  Mengenai bentuk kegiatan pertanian (dalam arti luas) yang sudah berhasil di lahan mangrove adalah persawahan dan perkebunan kelapa.  Di Cilacap kawasan mangrove sebagian telah dirubah menjadi lahan padi yang intensif oleh penduduk setempat. Selanjutnya De La Cruz (1978) melaporkan pula bahwa di Mindanao, Filipina, penduduk telah berhasil membuka kawasan mangrove menjadi sawah permanen.  Di beberpa tempat tanaman budidaya yang telah ditanam di lahan mangrove  adalah kelapa, yang tumbuh dengan baik dan subur (misal, di Sungsang-Banyuasin). Sedangkan keberhasilan “hutan tambak” di lahan mangrove telah dilaporkan oleh Alrasyid (1986) di Ujung Karawang.

Pada saat ini dimana hutan mangrove cenderung mengalami kerusakan akibat beberapa kegiatan manusia (perluasan daerah pemukiman, perluasan lahan pertanian/pertambakan dan adanya proses pencemaran), maka saya berpendapat bahwa kegiatan pertanian (dalam arti luas) yang sebaiknya diterapkan di lahan mangrove adalah Agrosilvofishery (kombinasi yang harus benar-benar terpadu antara pertanian, kehutanan dar perikanan/tarabak).

Dengan adanya pola agrosilvofishery pada mintakat mangrove yang memang sesuai setelah terlebih dahulu dilakukan pengkajian kelayakannya akan meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi dan lahan mangrove serta berpengaruh baik terhadap keadaan sosial-ekonomi penduduk setempat yang mungkin juga akan ikut membantu dalam memecahkan masalah “land tenure” di masyarakat yang bersangkutan.

Dipertahankannya hutan mangrove dalam pola agrosilvofishery akan berpengaruh positif terhadap tanaman pertanian dan perikanan/tambak, yakni:

a)   Sebagai nursery ground dan feeding ground bagi ikan yang dipelihara di dalam tambak serta jenis biota akuatik lainnya (kepiting, udang, kerang) yang datang sendiri ke hutan tambak bersama dengan air pasang.

b)   Mengurangi penyusupan/intrusi air laut ke lahan pertanian dan berfungsi sebagai pelindung lahan pertanian dari hempasan angin dan gempuran ombak.

c)   Pengendali pH tanah habitat tersebut dan pengendali logam berat (pencemaran).

d)  Mencegah terjadinya kehanyutan tanah subur ke laut serta menstabilkan tanah pada habitat tersebut.

Diharapkan agrosilvofishery ini juga dapat meningkatkan produktivitas lahan mangrove yang berarti dapat meningkatkan pendapatan/taraf hidup masyarakat setempat serta menjamin kesinambungan frekuensi panen setiap tahunnya.

e.   Keindahan bentang darat

Adanya keindahan bentang darat mangrove di daerah pesisir memungkinkan pemanfaatan hutan mangrove untuk tujuan rekreasi (khususnya ekoturisme). Hutan rekreasi mangrove merupakan teknik yang relatif baru dalam pengelolaan hutan mangrove. Bentuk pengelolaan hutan ini akan memberikan keuntungan ganda, karena kita dapat memperoleh manfaat ekonomis tanpa langsung mengeksploitasi mangrove itu sendiri. Dari segi kelestarian sumberdaya, pemanfaatan hutan mangrove untuk tujuan rekreasi (khususnya ekoturis­me) di hutan mangrove sangat bergantung pada kualitas dan eksiscensi ekosistem mangrove tersebut. Berdasarkan pengalaman, pengelolaan hutan rekreasi mangrove yang telah dilakukan oleh beberapa negara seperti Okinawa (Jepang), Amerika Serikat, Australia, New Zealand, Trinidad, Vene­zuela, Pagbilao (Filipina), Singapura, Malaysia, dan Tritih (Indonesia), terbukti bahwa dari segi ekonomis dan sosial dapat memberikan keuntungan dan dari segi ekologis dapat melestarikan keberadaan ekosistem mangrove (Hamilton dan Snedaker, 1984).

Prospek pemnafaatan hutan mangrove untuk tujuan re­kreasi adalah cukup cerah, karena berdasarkan fakta umumnya para wisatawan di belahan bumi manapun berorientasi pada pemandangan kawasan pantai yang indah dan atraksi adat istiadat penduduk setempat. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa hutan mangrove yang dikelola secara baik juga dapat berfungsi ganda sebagai daerah rekreasi dan penghasil produk (terutama kayu) secara berkelanjutan.

Menurut Kusmana dan Istomo (1993), beberapa potensi ekosistem mangrove yang merupakan modal penting bagi tujuan rekreasi adalah:

a)      Bentuk perakaran yang khas yang umum ditemukan pada beberapa jenis vegetasi   mangrove, seperti akar tunjang (Rhizophora spp.), akar lutut (Bruguiera spp.), akar  pasak (Sonneratia spp. dan  Avicennia spp. ), akar papan (Heritiera spp.), dll.

b)      Buahnya yang bersifat viviparious (buah berkecambah semasa masih menempel pada pohon) yang diperlihatkan oleh beberapa jenis vegetasi mangrove, seperti jenis-jenis yang tergolong pada suku Rhhizophoraceae.

c)      Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi dengan hutan rawa).

d)     Berbagai jenis fauna dan flora yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, dimana jenis fauna dan flora tersebut kadang-kadang jenis endemik bagi daerah yang bersangkutan.

e)      Atraksi adat-istiadat tradisional penduduk setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove.

f)       Saat ini, nampaknya hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan/tambak tumpang-sari, penebangan, pembuatan garam, dan lain-lain bisa menarik para wisatawan.

Selanjutnya dijelaskan bahwa bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang dapat dikembangkan di hutan mangrove adalah berburu, hiking, memancing, berlayar, berenang, melihat atraksi berbagai satwa, fotografi, piknik dan camping, melihat atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat, dan lain-lain.

f.    Pendidikan dan penelitian

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem unik, karena mencakup ekosistem darat dan laut. Oleh karena itu, suatu ekosistem mangrove dihuni berbagai biota daratan dan akuatik. Keadaan yang khas adalah merupakan daya tarik tersendiri untuk sarana pendidikan dan penelitian baik yang menyangkut faktor biofisik maupun faktor sosial ekonomis dalam rangka menunjang pengelolaan sumberdaya hayati yang rasional di daerah pesisir.

B. Fungsi mangrove pada level sumberdaya (primary biotic component)

a.   Fauna

Fauna yang berada di ekosistem mangrove terdiri atas fauna daratan dan fauna laut (Macnae, 1968) .

(1)   Fauna Daratan

Umumnya fauna darat hanya menggunakan eko­sistem mangrove sebagai tempat mencari makan dan atau perlindungan. Di Indonesia dikenal hanya satu jenis fauna darat yang seluruh siklus hidupnya bergantung pada habitat mangrove, yaitu bekantan (Nasalis larvatus) yang penyebarannya terbatas di Kalimantan.

a)   Burung

Beberapa jenis burung yang berasosiasi dengan mangrove adalah Phalacrocorax carbo, P. melanogaster, P. niger, Anhinga anhinga, Egretta spp., Halcyon chloris, dan lain-lain.

b)   Amphibi  dan Reptilia

Jenis-jenis fauna amphibi yang sering ditemukan di mangrove adalah Rana cancrivora dan Rana limnocharis. Sedangkan jenis-jenis Reptilia yang sering dijumpai adalah Crocodilus porosus, Varanus salvator, Trimeresurus wagleri, T. purpureomaculatus,   Boiga. dendrophila,   Fordonia leucojbalia,   Bitia hydroides, Cerberus rhynchops, dan lain-lain.

c)   Mamalia

Beberapa jenis mamalia yang dijumpai di mangrove adalah Nasalis larvatus, Presbytis cristatus, Cercoppithecus mitis, Macaca irus, Sus scrofa, Kerpestes spp., dan lain-lain.

d)  Serangga

Banyak jenis serangga yang menghuni habitat mangrove, yang mana umumnya didominasi oleh nyamuk. Jenis-jenis serangga tersebut adalah semut, Aedes pembaensis, Anopheles spp., Culicoides spp., dan lain-lain.

(2)   Fauna  Laut

Fauna laut merupakan elemen utama dari fauna ekosistem mangrove. Fauna laut di mangrove terdiri atas dua komponen, yaitu infauna yang hidup di lobang-lobang di dalam tanah, dan epifauna yang bersifat mengembara di permukaan tanah.

Infauna umumnya didominasi oleh Crustaceae. Selain itu, komunitas infauna mangrove terdiri atas beberapa jenis Bivalvia dan satu genus ikan. Sedangkan komunitas epifauna mangrove didominasi Moluska (dalam hal ini Gastropoda) dan beberapa jenis kepiting.

Fauna  laut   di   ekosistem mangrove  memperlihatkan dua pola penyebaran, yaitu:

a)      Fauna yang menyebar secara vertikal (hidup di batang, cabang dan ranting, dan daun pohon) yakni berbagai jenis Moluska, terutama keong-keongan, misalnya Littorina scrabra, L. melanostoma, L. undulata, Cerithidea spp., Nerita birmanica, Chthalmus witthersii, Murex adustus, Balanus amphitrite, Crassostraea cuculata, Nannosesarma minuta, dan Clibanarius longitarsus; dan

b)      Fauna yang menyebar secara horisortal (hidup di atas atau di dalam substratum) yang menempati berbagai tipe habitat sebagai berikut:

  1. Mintakat pedalaman (Birgus latro, Cardisoma carnifex. Thalassina anomala, Sesarma spp., Uca lactea, U. Bellator dan lain-lain)
  2. Hutan Bruguiera dan semak Ceriops (Sarmatium spp., Helice spp., Ilyoggrapsus spp.,  Sesarma spp., Metopograpsus frontalis, M. thukuhar, M. messor, Cleistosma spp., Tylodiplax spp., Ilyoplax spp., Thalassina anomala, Macrophthalmus depressum, Paracleistostoma depressum, Utica spp.,    Telescopium   telescopiu, Uca spp., Cerithidea spp., dan lain-lain)
  3. Hutan Rhizophora (Metopograpsus latifrons, “Alpeid prawn’, Macrophthalmus spp., Telescopium telescopium, dan lain-lain)
  4. Mintakat pinggir pantai dan saluran (Scartelaos viridus, Macrophthalmus latreillei, Boleophthalmus chrysospilos, Tachypleus gigas, Cerberus rhysospilos, Tacchypleus gigas, Cerberus rhynchops, Syncera brevicula, Telescopium telescopi-um, Epixanthus dentatus, Eurycarcinus integrifrons, Heteropanope eucratoides, dan lain-lain).

b.     Flora

Menurut Umali et al. (1987) dalam Kusmana (2009), sampai saat ini dilaporkan sekitar 130 jenis tumbuhan di 11 negara Asia-Pasifik, diantaranya di Indonesia terdapat 101 jenis (Kusmana,  1993a).

Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai: (a) “chips” untuk bahan baku kertas, terutama jenis Rhizophcra spp. dan Bruguiera spp., (b) penghasil industri papan dan plywood, terutama jenis Bruguiera spp. dan Heritiera littoralis; (c) tongkat dan tiang pancang (“scalfold“), terutama jenis Bruguiera spp., Ceriops spp., Oncosperma sp. dan Rhizophora apiculata; (d) kayu bakar dan arang yang berkualitas sangat baik.

Sudah sejak lama, berbagai jenis tumbuhan mangrove dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal seperti dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal.

No. Jenis Kegunaan
1. Acanthus  ilicifolius Buah yang dihancurkan dalam air dapat digunakan untuk membantu menghentikan darah yang keluar dari luka dan mengobati luka karena gigitan ular.
2. Acrostichum aureum

Bagian tanaman yang masih muda dapat dimakan mentah atau dimasak sebagai sayuran.
3. Aegiceras  ccrniculatum Kulit dan bijinya untuk membuat racun ikan.
4. Avicennia alba

Daun yang masih muda dapat untuk  makanan ternak, biji­nya dapat dimakan jika direbus, kulitnya untuk obat tradisional (astringent), zat semacam resin yang dikeluarkan bermanfaat dalam usaha  mencegah kehamilan, salep yang dicampur cara membuatny dengan biji tumbuhan ini sangat baik untuk  mengobati luka penyakit cacar, bijinya sangat beracun sehingga hati-hati dalam memanfaatkannya.
5. Avicennia marina Daun yang  muda dapat dimakan/disayur,  polen dari bunganya dapat untuk menarik koloni-koloni kumbang penghasil madu yang diternakan, abu dari kayunya sangat  baik untuk  bahan baku dalam perabuatan sabun cuci.
6. Avicennia officinalis Biji dapat dimakan sesudah dicuci dan direbus.
7. Bruguiera gymnorzhiza Kayunya sangat berguna dalam industri arang/kayu bakar dan tannin, kulit batang yang masih muda dapat untuk menambah rasa sedap ikan yang masih segar, pneumarhophoranya dapat dipakai sebagai bibit dalam usaha reboisasi  hutan bakau.
8. Bruguiera parviflora Kayunya untuk arang dan kayu bakar.
9. Bruguiera sexangula Daun muda, embrio buah, buluh akar dapat dimakan sebagai sayuran, daunnya mengandung alkoloid yang dapat dipakai

untuk mengobati tumor kulit, akarnya dapat untuk kayu menyan, buahnya dapat untuk campuran obat cuci mata tradisional.

10. Ceriops tagal Kulit batang baik sekali untuk mewarnai dan sebagai bahan pengawet/penguat jala-jala ikan dan juga untuk industri batik, kayunya baik untuk industri kayu lapis (plywood), kulit batang untuk obat tradisional.
11. Excoecaria  agallocha Getahnya beracun dan dapat dipakai untuk meracun ikan.
12. Heritiera littoralis Kayunya baik untuk industri papan, air buahnya beracur dan dapat untuk meracuni ikan.
13. Lumnitzera  racemosa Rebusan  daunnya dapat untuk obat sariawan.
14. Oncosperma   tigillaria Batangnya untuk pancang rumah, umbut untuk sayuran, bunganya  dapat untuk menambah rasa sedap nasi.
15. Rhizophora mucronata. Kayunya untuk arang/kayu bakar dan chips. Air buar dan   kulit akar yangmuda dapat   dipakai  untuk mengusir nyamuk dari  tubuh/badan.
16. Rhizophcra  apiculata Kayunya untuk kayu bakar, arang, chips dan kayu konstruksi.
17. Sonneratia  caseolaris Buahnya dapat dimakan, cairan buah dapat untuk menghaluskan kulit, daunnya dapat untuk makanan kambing, dapat  menghasilkan pectine.
18. Xylocarpus woluccensis Kayunya baik sekali untuk papan, akar-akarnya dapat dipakai   sebagai bahan dasar kerajinan tangan (hiasar dinding, dll),     kulitnya untuk obat tradisional (diarhea), buahnya mengeluarkan minyak dapat  dipa­kai untuk minyak rambut tardisional.
19. Nipa fructicans Daun untuk atap rumah, dinding, topi, bahan baku kertas, keranjang dan pembungkus sigaret; nira untuk minuman dan alkohol, biji untuk jely dan sebagai kolang-kaling; dan pelepah yang dibakar untuk menghasilkan garam.

FRAMEWORK PENGELOLAAN MANGROVE DALAM

KONTEKS PENGELOLAAN PESISIR

Memperhatikan betapa pentingnya fungsi mangrove seperti telah dikemukakan di atas, semestinya ekosistem mangrove semaksimal mungkin dipertahankan keberadaannya. Sehubungan dengan itu ada beberpa tipe ekosistem mangrove yang semestinya dikonservasi, yaitu:

  1. Mangrove yang tumbuh di pulau-pulau kecil.
  2. Ekosistem mangrove yang unik/khas.
  3. Ekosistem mangrove yang merupakan habitat satwaliar/biota yang endemik dan atau dilindungi.
  4. Mangrove yang tumbuh di estuaria dan muara sungai yang berperan mempertahankan keseimbangan ekologi di ekosistem tersebut.
  5. Mangrove yang berfungsi sebagai habitat perikanan atau dekat kawasan penangkapan.
  6. Mangrove yang berada pada kawasan yang rawan oleh kejadian bencana di pesisir (badai, abrasi, banjir).
  7. Mangrove yang masih asli yang dialokasikan sebagai gene biodiversity bank.
  8. Mangrove yang berfungsi sebagai perlindungan abrasi pantai, pemukiman, industri, pelabuhan, bandara, pengendalian pencemaran dan interusi air laut, serta lindungan lingkungan pantai lainnya yang spesifik lokal.
  9. Mangrove yang ditentukan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, pariwisata, dan tujuan khusus lainnya.

Proses ekologi internal yang bertanggungjawab terhadap pemeliharaan keberlangsungan fungsi ekosistem mangrove secara signifikan dipengaruhi oleh proses eksternal sebagai berikut: (1) pasokan yang seimbang dari jumlah air tawar dan air laut, (2)  suplai nutrien yang cukup, dan (3) kondisi substrat yang stabil.  Apabila salah satu faktor eksternal ini terganggu, maka proses ekologis internal dari ekosistem mangrove akan terganggu yang pada akhirnya mengakibatkan kerusakan/hilangnya mangrove tersebut.  Oleh karena itu, pihak pengelola ekosistem mangrove harus mengetahui limit toleransi dari ekosistem tersebut terhadap perubahan dari faktor eksternal tersebut.

Mangrove merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi dan pembersih air dari polutan.  Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove.  Dengan perkataan lain mangrove menyediakan berbagai jenis produk yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional maupun nasional.

Kesemua fungsi mangrove tersebut akan tetap berlanjut kalau keberadaan ekosistem mangrove dapat dipertahankan dan pemanfaatan sumberdayanya berdasarkan pada prinsip-prinsip kelestarian.  Hal ini berarti mangrove berperan sebagai sumberdaya renewable jika semua proses ekologi yang terjadi di dalam ekosistem mangrove dapat berlangsung tanpa gangguan.

Dalam konteks pengelolaan pesisir, mangrove harus dianggap sebagai bagian integral dari suatu ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) dan merupakan bagian dari ekosistem estuarin yang komplek di pesisir yang berinteraksi satu sama lain yang keberadaannya dipelihara oleh pola drainase alamiah dan aliran air tawar dari catchment area di satu pihak serta dinamika pasang surut dan salinitas di pihak lain.  Dalam hal ini semua aktifitas dan landuse di catchment area harus dipertimbangkan dalam pengelolaan ekosistem pesisir bagian integral dari ekosistem pesisir yang terdiri atas berbagai habitat padang lamun, terumbu karang dan lain-lain yang saling berinteraksi satu sama lain yang secara alami terpelihara oleh pola drainase dan pasokan air tawar dari daerah tangkapan air di daerah hulu di satu pihak dan mekanisme pasang surut dan rejim salinitas di pihak lain.  Oleh karena itu, unit manajemen dalam pengelolaan mangrove adalah Daerah Aliran Sungai (DAS), sehingga untuk mengembangkan pengelolaan mangrove yang efektif adalah suatu keharusan mempertimbangkan berbagai proses dinamika alam yang terjadi pada unit DAS tersebut.

Pengelolaan sumberdaya alam, khususnya mangrove, harus berdasarkan pada basis ekologis atau filosofi konservasi dimana langkah pertama yang harus ditempuh adalah menjaga mangrove dari kerusakan.  Dalam hal ini yang sangat penting adalah upaya mengoptimasikan konservasi sumberdaya mangrove yang dapat memenuhi kebutuhan hidup (barang dan jasa) masyarakat di satu pihak dan menjamin keanekaragaman hayatinya di pihak lain.

Sebagai renewable resources, mangrove sepatutnya dikelola berdasarkan pada prinsip-prinsip kelestarian (sustainable basis).  Pada prinsip pengelolaan ini sumberdaya mangrove harus dapat dipanen secara berkelanjutan, sementara ekosistem mangrove itu sendiri dapat dipertahankan secara alami seperti semula.  Selain itu preservasi sebagian areal mangrove yang betul-betul tidak terganggu (pristine mangrove forest) sepatutnya dipertimbangkan dalam praktek pengelolaan mangrove sebagai biodiversity bank atau biological resources apabila pengelolaan mangrove yang dipraktekkan mengalami kegagalan yang menyebabkan kerusakan bahkan hilangnya mangrove tersebut.

Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa ekosistem mangrove harus dikelola berdasarkan pada paradigma ekologi yang meliputi prinsip-prinsip interdependensi antar unsur ekosistem, sifat siklus dari proses ekologis, fleksibilitas, diversitas dan koevolusi dari organisme beserta lingkungannya dalam suatu unit fisik DAS.

DAFTAR PUSTAKA

Aksornkoae,  S. 1993. Ecology and Management of Mangrove. IUCN, Bangkok, Thailand.

Al Rasyid, H. 1986. Jalur Hijau untuk Pengelolaan Hutan Mangrove Pamanukan, Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan 475: 29 – 65.

Boto, K.G. dan J.T. Wellington. 1983. Phosporous and Nitro­gen Nutritional Status of A Northern Australian Mang­rove Forests. Mar. Ecol. Prog. Ser. 11: 63 – 69.

——————. I977. Introduction. In: Chapman, V.J. (Ed.), Ecosystems of the World. 1. Wet Coastal Ecosystems. Elsevier Sci.Publ. Co., Amsterdam, pp. 1-29.

Clough, B.F., K.G. Boto dan P.M. Attiwil. 1983. Mangroves and Sewage: A Re-evaluation. Dalam Teas, H.J. (Ed.). Biology and Ecology of Mangroves, Tasks for Vegetation Science 8. Dr. W. Junk Publ. , The Hague, pp. 151 – 161.

Davis, J.H. Jr. 1940. The Ecology and Geologic Role of Mangroves in Florida. Papers from Tortugas Lab. 32. Carnegie Inst. Wash. Publ. 517: 305 – 412.

De La Cruz, A. 1978. The Functions of Coastal Wetlands. Assoc. Southeast. Biol. Bull. 23: 179-185.

Diposaptono, S. dan Budiman. 2008. Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami. PT. Sarana Komunikasi Utama. Bogor.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2009. Jumlah Pulau Kecil. http://www.ppk-kp3kdkp.go.id/index.php?option=com_content. Diakses: 7 Juli 2009.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2009. Pulau-pulau Kecil Terluar di Indonesia. http://www.dkp.go.id. 2009.

Hamilton, L.S. dan S.C. Snedaker (Eds.), 1984. Handbook for Mangrove Area Management. Environment and Policy Institute, East-West Centre. Hawai.

Harada, K. dan Y. Kawata. 2004. Study on The Effect of Coastal Forest to Tsunami Reduction. Annuals of Disaster Prevention, Research Institute of Kyoto Univ. No. 47C.

Kusmana. 1993a. A Study on Mangrove Forest Management Based on Ecological Data in Eastern Sumatra, Indonesia. Ph.D. Dissertation, Faculty of Agriculture, Kyoto University, Japan. Unpublished.

————. 1993b. Management Guidelines for A Mangrove Forest in Eastern Sumatra, Indonesia. Makalah pada Seminar Nasional Konservasi dan Rehabilitasi Hutan Mangrove, INSTIPER Yogyakarta, tanggal 4-5 Mei 1993.

_______. 2009. Kontribusi Kegiatan Penelitian Mangrove terhadap Kemandirian Perekonomian Masyarakat Pesisir dan Keberlanjutan Ekosistem Bahari. Makalah.

——— dan Istomo. 1993. Potensi Hutan Mangrove untuk Tujuan Rekreasi. Makalah pada Seminar Nasional Manajemen Kawasan Pesisir untuk Ekoturisme, Program MM-IPB, Bogor, tanggal 17 September 1993.

Macnae, W. 1968. A General Account of The Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in The Indowest-Pacific Region. Adv. Mar. Biol. 6: 73 – 270.

Mazda, Y., M. Magi, M. Kogo and P.Ng. Hong. 1997. Mangrove as A Coastal Protection from Waves in The Tong King Delta, Vietnam. Mangroves and Salt Marshes 1:127-135.

Notohadiprawiro, T. 1979. Beberapa Sifat Tanah Mangrove Ditinjau dari Segi Edafologi. In Sumidihardjo, S., A. Notji, dan A. Djamali (Eds.). Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove: 40 – 54. MAB – LIPI. Jakarta.

Polunin, N.V.C. 1983. The Marine Resources of Indonesia. Oceonogr. Mar. Biol. Ann. Rev. 1983, 21:455-531.

Saenger, P. 1982. Morphological, Anatomical, and Reproductive Adaptations of Australian Mangroves. In: Clough, B.F. (Ed.), Mangrove Ecosystems in Australia. Australian National University Press, Canberra, pp. 153-191.

————, 2002. Mangrove Ecology, Silviculture and Conservation. Kluwer Academic Publisher. Dondrecht. Netherlands.

Saepulloh, C. 1995. Akumulasi Logam Berat (Pb, Cd, Ni) pada Jenis Aivennia marina di Hutan Lindung Mangrove Angke-Kapuk DKI Jakarta. Skripsi. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Snedaker, S.C. 1978. Mangroves: Their Value and Perpetua­tion. Nature and Resources 14: 6 – 13.

Sukardjo, S. dan S. Akhmad. 1982. The Mangrove Forests of Java and Bali. Biotrop Spec. Publ. No. 17: 113-126.

UNEP. 2006. Daftar Pulau yang Memiliki Luas Lebih Besar dari 2.000 km2. http://www.ppk-kp3k.dkp.go.id/index.php?option=com_context. Diakses: 12 Juli 2009.

Watson, J.G. 1982. Mangrove Forests of The Malay Peninsula. Malay For. Rec. No. 6:1-274.

Wolanski, E., S. Spagnol dan E.B. Lim. 1997. The Importance of Mangrove Flocs in Sheltering Seagrass in Turbid Coastal Waters. Mangrove and Salt Marshes 1:187-191.

Lampiran 1. Pulau-pulau kecil (luasnya < 2.000 km2) di Indonesia

No. Nama Pulau Koordinat Titik Terluar Perairan Wilayah Administrasi Berbatasan dengan
1. Alor 8° 13′ 50″ LS,  125° 7′ 55″ BT Selat Ombai Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur Timor Leste
2. Ararkula 5° 35′ 42″ LS,  134° 49′ 5″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
3. Asutubun 8° 3′ 7″ LS,  131° 18′ 2″ BT Laut Timor Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
4. Bangkit 1° 2′ 52″ LU,  123° 6′ 45″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Filipina
5. Barung 8° 30′ 30″ LS,  113° 17′ 37″ BT Samudra Hindia Kabupaten Jember, Jawa Timur Australia
6. Batarkusu 8° 20′ 30″ LS,  130° 49′ 16″ BT Laut Timor Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
7. Batek 9° 15′ 30″ LS,  123° 59′ 30″ BT Laut Sawu Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Timor Leste
8. Batu Bawaikang 4° 44′ 46″ LU,  125° 29′ 24″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Filipina
9. Batu Berhanti 1° 11′ 6″ LU,  103° 52′ 57″ BT Selat Singapura Kota Batam, Kepulauan Riau Singapura
10. Batu Goyang 7° 57′ 1″ LS,  134° 11′ 38″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
11. Batu Kecil 5° 53′ 45″ LS,  104° 26′ 26″ BT Samudra Hindia Kabupaten Tanggamus, Lampung India
12. Batu Mandi 2° 52′ 10″ LU,  100° 41′ 5″ BT Selat Malaka Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau Malaysia
13. Benggala 5° 47′ 34″ LU,  94° 58′ 21″ BT Samudra Hindia Kota Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam India
14. Bepondi 0° 23′ 38″ LS,  135° 16′ 27″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Biak Numfor, Papua Palau
15. Berhala 3° 46′ 38″ LU,  99° 30′ 3″ BT Selat Malaka Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara Malaysia
16. Bras 0° 55′ 57″ LU,  134° 20′ 30″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Biak Numfor, Papua]] Palau
17. Budd 0° 32′ 8″ LU,  130° 43′ 52″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Sorong, Irian Jaya Barat Palau
18. Damar 2° 44′ 29″ LU,  105° 22′ 46″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
19. Dana 11° 0′ 36″ LS,  122° 52′ 37″ BT Samudra Hindia Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Australia
20. Dana 10° 50′ 0″ LS,  121° 16′ 57″ BT Samudra Hindia Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Australia
21. Deli 7° 1′ 0″ LS,  105° 31′ 25″ BT Samudra Hindia Kabupaten Pandeglang, Banten Australia
22. Dolangan 1° 22′ 40″ LU,  120° 53′ 4″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah Malaysia
23. Enggano 5° 31′ 13″ LS,  102° 16′ 0″ BT Samudra Hindia Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu India
24. Enu 7° 6′ 14″ LS,  134° 31′ 19″ BT Laut Arafuru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
25. Fani 1° 4′ 28″ LU,  131° 16′ 49″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Sorong, Irian Jaya Barat Palau
26. Fanildo 0° 56′ 22″ LU,  134° 17′ 44″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Biak Numfor, Papua Palau
27. Gosong Makasar 3° 59′ 25″ LU,  117° 57′ 42″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur Malaysia
28. Intata 4° 38′ 38″ LU,  127° 9′ 49″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Filipina
29. Iyu Kecil 1° 11′ 30″ LU,  103° 21′ 8″ BT Selat Malaka Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau Malaysia
30. Jiew 0° 43′ 39″ LU,  129° 8′ 30″ BT Laut Halmahera Halmahera, Maluku Utara Palau
31. Kakarutan 4° 37′ 36″ LU,  127° 9′ 53″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Filipina
32. Karang 7° 1′ 8″ LS,  134° 41′ 26″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
33. Karaweira 6° 0′ 9″ LS,  134° 54′ 26″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
34. Karimun Kecil 1° 9′ 59″ LU,  103° 23′ 20″ BT Selat Malaka Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau Malaysia
35. Kawalusu 4° 14′ 6″ LU,  125° 18′ 59″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Filipina
36. Kawio 4° 40′ 16″ LU,  125° 25′ 41″ BT Laut Mindanao Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Filipina
37. Kepala 2° 38′ 42″ LU,  109° 10′ 4″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
38. Kisar 8° 6′ 10″ LS,  127° 8′ 36″ BT Selat Wetar Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
39. Kolepon 8° 12′ 49″ LS,  137° 41′ 24″ BT Laut Aru Kabupaten Merauke, Papua Australia
40. Kultubai Selatan 6° 49′ 54″ LS,  134° 47′ 14″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
41. Kultubai Utara 6° 38′ 50″ LS,  134° 50′ 12″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
42. Laag 5° 23′ 14″ LS,  137° 43′ 7″ BT Laut Aru Irian Jaya Timur, Papua Australia
43. Larat 7° 14′ 26″ LS,  131° 58′ 49″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Australia
44. Leti 8° 14′ 20″ LS,  127° 37′ 50″ BT Laut Timor Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
45. Liki 1° 34′ 26″ LS,  138° 42′ 57″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Jayapura, Papua Papua Nugini
46. Lingian 0° 59′ 55″ LU,  120° 12′ 50″ BT Selat Makasar Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah Malaysia
47. Liran 8° 3′ 50″ LS,  125° 44′ 0″ BT Selat Wetar Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
48. Makalehi 2° 44′ 15″ LU,  125° 9′ 28″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Filipina
49. Mangkai 3° 5′ 32″ LU,  105° 35′ 0″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
50. Mangudu 10° 20′ 8″ LS,  120° 5′ 56″ BT Samudra Hindia Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur Australia
51. Manterawu 1° 45′ 47″ LU,  124° 43′ 51″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Filipina
52. Manuk 7° 49′ 11″ LS,  108° 19′ 18″ BT Samudra Hindia Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Australia
53. Marampit 4° 46′ 18″ LU,  127° 8′ 32″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Filipina
54. Maratua 2° 15′ 12″ LU,  118° 38′ 41″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Malaysia
55. Marore 4° 44′ 14″ LU,  125° 28′ 42″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Filipina
56. Masela 8° 13′ 29″ LS,  129° 49′ 32″ BT Laut Timor Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
57. Meatimiarang 8° 21′ 9″ LS,  128° 30′ 52″ BT Laut Timor Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
58. Mega 4° 1′ 12″ LS,  101° 1′ 49″ BT Samudra Hindia Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu India
59. Miangas 5° 34′ 2″ LU,  126° 34′ 54″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Filipina
60. Miossu 0° 20′ 16″ LS,  132° 9′ 34″ BT Samudra Pasifik Kabupaten Sorong, Irian Jaya Barat Palau
61. Nipa 1° 9′ 13″ LU,  103° 39′ 11″ BT Selat Singapura Kota Batam, Kepulauan Riau Singapura
62. Nongsa 1° 12′ 29″ LU,  104° 4′ 47″ BT Selat Singapura Kota Batam, Kepulauan Riau Singapura
63. Nusakambangan 7° 47′ 5″ LS,  109° 2′ 34″ BT Samudra Hindia Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah Australia
64. Panambulai 6° 19′ 26″ LS,  134° 54′ 53″ BT Laut Aru Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Australia
65. Panehan 8° 22′ 17″ LS,  111° 30′ 41″ BT Samudra Hindia Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur Australia
66. Pelampong 1° 7′ 44″ LU,  103° 41′ 58″ BT Selat Singapura Kota Batam, Kepulauan Riau Singapura
67. Raya 4° 52′ 33″ LU,  95° 21′ 46″ BT Samudra Hindia Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam India
68. Rondo 6° 4′ 30″ LU,  95° 6′ 45″ BT Samudra Hindia Kota Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam India
69. Rusa 5° 16′ 34″ LU,  95° 12′ 7″ BT Samudra Hindia Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam India
70. Salando 1° 20′ 16″ LU,  120° 47′ 31″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah Malaysia
71. Salaut Besar 2° 57′ 51″ LU,  95° 23′ 34″ BT Samudra Hindia Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam India
72. Sambit 1° 46′ 53″ LU,  119° 2′ 26″ BT Laut Sulawesi Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Malaysia
73. Sebatik 4° 10′ 0″ LU,  117° 54′ 0″ BT Selat Makasar Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur Malaysia
74. Sebetul 4° 42′ 25″ LU,  107° 54′ 20″ BT Laut China Selatan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Vietnam
75. Sekatung 4° 47′ 45″ LU,  108° 1′ 19″ BT Laut China Selatan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Vietnam
76. Sekel 8° 24′ 24″ LS,  111° 42′ 31″ BT Samudra Hindia Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur Australia
77. Selaru 8° 10′ 17″ LS,  131° 7′ 31″ BT Laut Timor Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Australia
78. Semiun 4° 31′ 9″ LU,  107° 43′ 17″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
79. Sentut 1° 2′ 52″ LU,  104° 49′ 50″ BT Selat Singapura Kabupaten Kepulauan Riau, Kepulauan Riau Malaysia
80. Senua 4° 0′ 48″ LU,  108° 25′ 4″ BT Laut China Selatan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
81. Sibarubaru 3° 17′ 48″ LS,  100° 19′ 47″ BT Samudra Hindia Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat India
82. Simeuleuceut 2° 31′ 47″ LU,  95° 55′ 5″ BT Samudra Hindia Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam India
83. Simuk 0° 5′ 33″ LS,  97° 51′ 14″ BT Samudra Hindia Kabupaten Nias, Sumatra Utara India
84. Sinyaunyau 1° 51′ 58″ LS,  99° 4′ 34″ BT Samudra Hindia Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat India
85. Sophialouisa 8° 55′ 20″ LS,  116° 0′ 8″ BT Samudra Hindia Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Australia
86. Subi Kecil 3° 1′ 51″ LU,  108° 54′ 52″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
87. Tokong Belayar 3° 27′ 4″ LU,  106° 16′ 8″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
88. Tokong Malang Biru 2° 18′ 0″ LU,  105° 35′ 47″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
89. Tokong Nanas 3° 19′ 52″ LU,  105° 57′ 4″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
90. Tokongboro 4° 4′ 1″ LU,  107° 26′ 9″ BT Laut Natuna Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Malaysia
91. Wetar 7° 56′ 50″ LS,  126° 28′ 10″ BT Laut Banda Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Timor Leste
92. Wunga 1° 12′ 47″ LU,  97° 4′ 48″ BT Samudra Hindia Kabupaten Nias, Sumatra Utara India

Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan (2009)

Lampiran 2. Daftar Pulau yang memiliki luas lebih besar dari 2000 km2

No. Luas Nama Pulau Titik Tertinggi
1 2033.6 sq.km. Misool (Indonesia – Irian Jaya) 561 m
2 2056.7 sq.km. Laut (Indonesia – Kalimantan) 725 m
3 2119.7 sq.km. Alor (Indonesia – Lesser Sunda Islands) 1839 m
4 2148.5 sq.km. Trangan (Indonesia – Moluccas) 91 m
5 2266.4 sq.km. Morotai (Indonesia – Moluccas) 1090 m
6 2278.0 sq.km. Yapen (Indonesia – Irian Jaya) 1496 m
7 2345.6 sq.km. Peleng (Indonesia – Sulawesi) 1052 m
8 2542.3 sq.km. Obi (Indonesia – Moluccas) 1600 m
9 2889.0 sq.km. Muna (Indonesia – Sulawesi) 91 m
10 2913.2 sq.km. Taliabu (Indonesia – Moluccas) 1638 m
11 3153.7 sq.km. Waigeo (Indonesia – Irian Jaya) 993 m
12 3828.5 sq.km. Siberut (Indonesia – Sumatra) 384 m
13 4048.0 sq.km. Nias (Indonesia – Sumatra) 887 m
14 4408.0 sq.km. Buton (Indonesia – Sulawesi) 1190 m
15 4428.9 sq.km. Madura (Indonesia – Java) 398 m
16 4478.1 sq.km. Belitung (Indonesia – Sumatra) 510 m
17 4625.0 sq.km. Lombok (Indonesia – Lesser Sunda Islands) 3726 m
18 5416.4 sq.km. Bali (Indonesia) 2276 m
19 8473.2 sq.km. Buru (Indonesia – Moluccas) 2736 m
20 10710.7 sq.km. Sumba (Indonesia – Lesser Sunda Islands) 1225 m
21 11413.3 sq.km. Bangka (Indonesia – Sumatra) 654 m
22 11741.8 sq.km. Dolak (Indonesia – Irian Jaya) ? m
23 14386.0 sq.km. Sumbawa (Indonesia – Lesser Sunda Islands) 2755 m
24 17454.2 sq.km. Seram (Indonesia – Moluccas) 3027 m
25 18039.6 sq.km. Halmahera (Indonesia – Moluccas) 1635 m
26 138793.6 sq.km. Jawa (Indonesia – Java) 3676 m
27 180680.7 sq.km. Sulawesi (Indonesia – Sulawesi) 3455 m
28 443065.8 sq.km. Sumatera (Indonesia – Sumatra) 3804 m

Sumber: UNEP (2006)


[1] Karya tulis disampaikan pada Workshop Pengelolaan Ekosistem Mangrove, Ditjen RLPS Dephut,

Pada tanggal 16 Juli 2009, di Hotel Peninsula Jakarta

[2] Halofit adalah tumbuhan yang hidup pada tempat-tempat dengan kadar garam tinggi atau bersifat alkalin

Tags:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.